Tanggal 15-16 Agustus aku packing, malem 17 aku ga bisa bobok, mbayangin muncak besoknya^^. Tanggal 17 agustus jam 13.30 aku sampe di GSG. Menurut rencana emang kumpulnya jam segitu. Tapi nyatanya jam segitu baru mas Agik yg dateng. Yowes lah nungguin dulu . . . Jadinya pesertane ada 16 orang: 9 cowo’, 7 cewe’. Berikut daftarnya:
07: Muhammad, Agik, Ilham, Havit, Fredie, Shoffa, Cut, Dewi
08: Aku, Mpuzz, Mita, Desti, Menik, Helmy, Tajul, Egga
Kami baru berangkat sekitar pukul 16.00 ne’ ga salah, naik TRUCK!! Bussettt!! Kaget aku!! Seumur-umur baru kali ini aku naik truck . . Untung ibu ga nanya, “besok berangkat naik apa Ndri??” kalo aku jawab, “naik truck,” pasti langsung ga dibolehin, hhehehehehe . . .
Perjalanan tembalang-ungaran cepet, sekitar 45 menit sampe. Kami diturunin di SD Sidomukti, Ungaran. Trus solat dulu di masjid. Setelah itu berangkat!! Kira-kira berangkatnya jam 5-an. Rencananya, pertama-tama menuju perumasan, yaitu semacam rumah peristirahatan buat pendaki milik penduduk setempat. Weeeehhh, kami mendaki berjalan menuju perumasan . . belum-belum aku udah capek duluan, padahal perjalanan kira-kira 3 jam. Berkali-kali aku nanya, “masih jauh ya??”, “berapa jam lagi??” dan selalu aja dijawab “15 menit lagi . .” HUUUU!!! Dari tadi 15 menit mulu, tapi ga sampe-sampe . .
Waktu tiba di pos hutan pinus, kami njajan mie rebus di warung deket sono. Trus kami dikasih tau mas Agik yang udah pernah ke sana, “nanti to sampe di perumasan masakan ibunya enak banget, pizza lewat!! McD lewaaatt!! Uenak banget wes to . .” mas Shoffa nanya, “mosok to Gik??” mas agik jawab, “yo he’eh . . . pokoke masakane nek digowo ning semarang paling kowe ora doyan, ndemek wae wegah, tapi nek ning kene rasane enak buanget wes to!” lalu mas Shoffa memerintahkan, “catet Lind!! Buat artikelnya!! Jangan lupa depannya tulisin: ‘kata Agik . .’ ” “SIAP BOSS!!” jawabku. Pemandangan di tepi hutan pinus buwaguuusss buwangeettt . . ada jurang yang WOOOWWW deh!! Aku sampe ga bisa melukiskan . . ^^ kami foto2 bersama di sana.
Pemandangan selama perjalanan bagus sekali. Melewati sawah-sawah, kebun kopi, kebun teh, hutan, hutan pinus, dan air terjun sungai kecil yang airnya bisa diminum tanpa dimasak dulu!! Jalan menuju perumasan lumayan menanjak, kami sering sekali berhenti untuk istirahat. Karena kami berangkat sore hari, kami melewati hutan saat sudah mulai gelap (pukul 18.00-19.00), banyak kunang-kunang, bagus banget lho. Saat istirahat di pos “kolam renang” & pos “rembulan” bintang-bintang terlihat jelas, sangat banyak, bagus sekali!! Bulannya juga baguss!! Waktu itu masih bulan sabit. Sayang ga kelihatan di foto.
Akhirnya sekitar pukul 19.30 kami tiba di perumasan. Kemudian kami solat maghrib-isya’ (dijamak). Untuk wudhu kami harus turun dulu ke sumber air di bawah perkampungan. Airnya . . . . bussseeeettt!! Duwingiiiiiinnn buwanggeeettt!!! Waktu aku nyelupin kaki di air kok tiba-tiba rasanya perihh, ternyata kakiku lecet-lecet . . baru kerasa waktu kena air dingin^^. Setelah solat, makan malam. Awalnya aku pikir, “ahh . . bo’ong tu mas Agik . .” Makanannya sih biasa aja: nasi, sayur labu siam, & bakwan. Tapi ternyata sambalnya luaarrrr biasaaaa!! Uenaaakk!! Puwedeeesss!! Muantheeebbhhh lah!! Aku makan bakwannya sampe nambah beberapa kali gara-gara colak-colek sambel. Sampe di perumasan batere kameraku tinggal 2 (aku bawa 4 butir), pengen nge-charge tapi di sana listrik cuma nyala jam 6 sampe jam 9 malem, hhuhuhuhu . . ga bisa nge-charge . . L Lalu istirahat, tidur sampai pukul 01.30 dini hari.
Pukul 01.30 kami bangun, badan terasa pegal-pegal. Kemudian packing membawa bekal secukupnya untuk ke puncak. Sekitar pukul 02.00 dini hari kami berangkat ke puncak. Wuiiihh dingiiin sekali . . Perjalanan menuju puncak lebih menanjak, curam, dan terjal. Banyak sekali batu-batu besar setinggi pinggang bahkan lebih! Kami sering banget istirahat karena memang sangat melelahkan. Udara yang dingin sampai tidak terasa lagi, justru gerah karena berkeringat.
Akhirnya kami sampai di puncak saat adzan subuh berkumandang. Matahari masih belum terbit. Di timur mulai muncul semburat-semburat orange. Semua berebut untuk berfoto dengan background sunrise /*sampai habis batereku . . . hhuhuhuhu . . :( */. Awalnya kupikir puncak bakal rame karena katanya ada pendakian tanggal 15, 16, 17. Tapi ternyata nggak juga. Sepi, cuma ada rombongan kami saja. Saat yang perempuan solat subuh, muncul ide gila para laki-laki. Mereka berfoto dengan bertelanjang dada (ngeliga) padahal udara dingiiinnn sekali!! Hhahahahaha . . ^^
Kemudian kami masak mie instant di puncak. Kalo dimakan di Semarang bakal amburadul deh tuh rasanya, cz beberapa mie dg rasa yg berbeda dicampur jadi satu. Tapi kalo dimakan di puncak, apapun rasanya . . . . ennaaaakkk, hhahahaha . . . Sebelum pulang kami berfoto bersama. Foto-foto terus di sana-sini sampai batere habis!! Akhirnya pake kamera handphone deh . . :( Di puncak kami bisa “memegang” awan . . WOW . . pemandangan baguuuusss sekali . . . ga rela rasanya mau turun . .
Aku lupa turunnya dari puncak jam berapa. Waktu turun aku baru sadar “wah . . ternyata jalan yang kita lewatin tadi malem kaya’ gini to??” Semalam kami jalan Cuma disinari senter. Ga kelihatan jelas. Jalan pulang JAUH-LEBIH-CEPAT daripada naiknya. Tapi cukup sakit, cz udah capek harus “nge-rem nge-rem” kaki juga biar ga ngglundung. Sampe perumasan sekitar jam 11. Trus MANDI!! GILLAAA!! DIINGINNNNYYAAAAAA!!! Kalo di rumah aku pasti udah minta dibikinin ibu air panas tuh . . tapi di sana GA MUNGKINN!! Jarak rumah sama tempat mandi aja jauhh kaya’ gitu . . >,<
Setelah makan siang (dengan menu yang sama dengan makan malam >,< ) kami pamit sama bapake yg punya rumah. Kemudian melanjutkan perjalanan turun gunung. Waktu aku berbalik ngelihat gunung di belakangku rasanya GA PERCAYA aku habis menginjakkan kaki di puncaknya ^^. Begitu pula teman-teman yang lain. Biarpun badan puwegeelll, cuwappeeekk, linnuuuu, lecet-lecet, suwakiiitttt semuwa, ini adalah pengalaman tak terlupakan . . Kapppoooookkk??? Enggak dong . . semoga tahun depan aku berkesempatan mendaki lagi. Tapi jangan Ungaran lagi . . gunung yang lain juga. .










